NIS2 (Directive (EU) 2022/2555) menaikkan standar keamanan siber bagi banyak organisasi yang beroperasi di Uni Eropa atau terhubung dengan ekosistemnya. Dampaknya bukan sekadar “ceklist compliance”, tetapi perubahan cara organisasi mengelola risiko, vendor, insiden, dan pembuktian kontrol. Karena itu, pendekatan terbaik adalah menyusun NIS2 compliance security roadmap yang jelas: apa yang harus dibangun, urutan prioritasnya, siapa penanggung jawabnya, dan bukti apa yang harus disiapkan.

Artikel ini membahas roadmap defensif yang praktis dan dapat diaudit, dengan fokus pada langkah-langkah yang umumnya dibutuhkan untuk mendekati kepatuhan NIS2 secara bertahap dan terukur.

Apa itu NIS2 dan mengapa roadmap diperlukan

NIS2 memperluas cakupan dan memperkuat kewajiban keamanan serta pelaporan insiden bagi entitas penting dan entitas esensial di berbagai sektor. Inti pesannya sederhana: risiko siber harus dikelola sebagai risiko bisnis, tidak hanya urusan tim IT. NIS2 juga mendorong akuntabilitas manajemen, kontrol supply chain, dan disiplin pelaporan insiden.

Roadmap diperlukan karena persyaratan NIS2 menyentuh banyak domain sekaligus: kebijakan, proses, teknis, SDM, vendor, serta dokumentasi. Tanpa roadmap, organisasi cenderung melakukan implementasi tambal sulam: membeli alat baru tanpa governance, membuat kebijakan tanpa kontrol, atau menulis prosedur tanpa latihan. Roadmap membantu memastikan investasi menghasilkan peningkatan keamanan yang nyata dan bukti kepatuhan yang rapi.

Siapa yang perlu memikirkan NIS2 compliance

Secara umum, organisasi yang beroperasi di sektor-sektor kritikal (misalnya energi, transportasi, kesehatan, infrastruktur digital, layanan TI tertentu, manufaktur penting, pengelolaan air, dan lain-lain) berpotensi masuk cakupan NIS2, termasuk organisasi menengah dan besar sesuai kriteria yang ditentukan. Selain itu, pemasok atau mitra organisasi yang berada dalam cakupan NIS2 juga sering diminta memenuhi standar keamanan yang lebih ketat melalui kontrak dan evaluasi vendor.

Jika Anda tidak yakin apakah organisasi Anda termasuk, roadmap tetap berguna: praktik yang dibangun umumnya sejalan dengan kerangka umum seperti ISO 27001, NIST CSF, dan praktik GRC, sehingga meningkatkan ketahanan siber terlepas dari kewajiban regulasi.

Prinsip desain roadmap NIS2 yang efektif

  • Berbasis risiko: fokus pada aset dan proses bisnis yang paling kritikal.
  • Berorientasi bukti: setiap kontrol punya artefak pembuktian (kebijakan, log, hasil uji, notulen, laporan).
  • Melibatkan manajemen: keputusan prioritas, anggaran, dan toleransi risiko harus disahkan.
  • Iteratif: mulai dari “minimum viable compliance”, lalu tingkatkan kedalaman kontrol.
  • Selaras dengan operasi: kontrol harus dapat dijalankan sehari-hari, bukan hanya dokumen.

Roadmap NIS2 Compliance Security: 8 tahap yang bisa diadopsi

1) Scoping dan klasifikasi: tentukan apa yang dicakup

Mulai dengan mendefinisikan ruang lingkup: entitas legal, unit bisnis, layanan, sistem, dan lokasi yang relevan. Buat inventaris awal yang menjawab pertanyaan:

  • Sistem apa yang mendukung layanan kritikal?
  • Data apa yang diproses (misalnya data operasional, data pelanggan, data kesehatan)?
  • Siapa pihak ketiga penting (cloud, MSP, penyedia software, logistics, dsb.)?

Output yang perlu disiapkan: inventaris aset tingkat tinggi, daftar layanan kritikal, diagram arsitektur ringkas, dan daftar vendor strategis.

2) Gap assessment terhadap kontrol NIS2 dan baseline internal

Lakukan penilaian kesenjangan untuk memahami posisi saat ini. Anda dapat memetakan kontrol organisasi ke kerangka yang sudah dikenal (misalnya ISO 27001 Annex A atau NIST CSF) lalu menilai kesesuaiannya terhadap ekspektasi NIS2: manajemen risiko, respons insiden, keamanan supply chain, keamanan jaringan dan sistem, pelatihan, kriptografi, dan lain-lain.

Praktik terbaik adalah menilai dalam tiga dimensi:

  • Desain: kebijakan/prosedur sudah ada atau belum.
  • Implementasi: kontrol berjalan konsisten atau hanya ad hoc.
  • Bukti: apakah ada artefak audit yang dapat menunjukkan efektivitas.

Output: matriks gap, daftar prioritas perbaikan, dan estimasi upaya.

3) Tata kelola (governance) dan akuntabilitas manajemen

NIS2 menekankan peran manajemen. Roadmap harus menetapkan struktur governance yang jelas agar keputusan keamanan tidak menggantung di level teknis saja.

  • Tetapkan pemilik risiko untuk layanan kritikal.
  • Bentuk forum keamanan (misalnya komite risiko/keamanan) dengan jadwal rapat dan agenda tetap.
  • Susun kebijakan inti: manajemen risiko, kontrol akses, keamanan vendor, respons insiden, dan manajemen kerentanan.

Output: RACI (siapa bertanggung jawab), piagam komite, kebijakan yang disahkan, dan notulen rapat berkala.

4) Manajemen risiko: dari daftar temuan menjadi rencana yang dibiayai

Roadmap NIS2 yang kuat mengubah “temuan teknis” menjadi register risiko yang dipahami bisnis. Untuk setiap risiko, dokumentasikan dampak, kemungkinan, kontrol yang ada, gap, dan rencana mitigasi.

  • Definisikan metodologi penilaian risiko yang konsisten.
  • Prioritaskan risiko yang berdampak pada ketersediaan layanan dan keselamatan operasional.
  • Tetapkan toleransi risiko dan mekanisme persetujuan pengecualian (risk acceptance).

Output: risk register, rencana mitigasi dengan tenggat, dan laporan risiko berkala untuk manajemen.

5) Kontrol teknis prioritas tinggi (quick wins) untuk menurunkan risiko

Sambil governance berjalan, implementasikan kontrol teknis yang umumnya memberi dampak cepat. Sesuaikan dengan konteks Anda, tetapi banyak organisasi memulai dari area berikut:

  • Identitas dan akses: MFA untuk akun penting, prinsip least privilege, review akses berkala, dan proses joiner-mover-leaver yang rapi.
  • Patch dan kerentanan: inventaris software, SLA patch berbasis risiko, pemindaian kerentanan terjadwal, dan mekanisme pengecualian yang disetujui.
  • Backup dan pemulihan: backup teruji, pemisahan akses backup, dan uji restore rutin untuk sistem kritikal.
  • Logging dan monitoring: sentralisasi log untuk sistem penting, alert untuk aktivitas berisiko, dan retensi log sesuai kebutuhan investigasi.
  • Keamanan endpoint dan email: hardening dasar, proteksi malware, dan kontrol anti-phishing.

Output: konfigurasi kontrol, catatan perubahan, laporan kepatuhan patch, hasil uji restore, dan bukti monitoring.

6) Kesiapan respons insiden dan pelaporan

NIS2 menuntut kemampuan mendeteksi, merespons, serta melaporkan insiden secara disiplin. Tujuannya bukan hanya “punya dokumen”, melainkan operasional.

  • Buat playbook insiden untuk skenario umum (misalnya gangguan layanan, kompromi akun, ransomware, kebocoran data) dengan langkah isolasi dan eskalasi defensif.
  • Tetapkan jalur komunikasi internal dan eksternal (legal, PR, manajemen, vendor kritikal).
  • Lakukan latihan tabletop secara berkala dan catat pembelajaran.

Output: kebijakan respons insiden, playbook, daftar kontak darurat, laporan latihan, serta template laporan insiden.

7) Keamanan supply chain dan manajemen pihak ketiga

Salah satu tantangan terbesar NIS2 adalah memastikan vendor dan mitra tidak menjadi titik lemah. Fokus pada vendor yang memegang akses ke sistem kritikal atau memproses data sensitif.

  • Klasifikasikan vendor berdasarkan tingkat risiko (kritikal, tinggi, sedang, rendah).
  • Terapkan due diligence: kuesioner keamanan, bukti sertifikasi, hasil audit, atau laporan penilaian independen.
  • Perkuat kontrak: kewajiban notifikasi insiden, SLA keamanan, ketentuan subkontraktor, dan hak audit.
  • Kelola akses vendor: akses minimum, time-bound access, dan logging.

Output: kebijakan TPRM (third-party risk management), daftar vendor kritikal, hasil penilaian, dan klausul kontrak standar.

8) Dokumentasi, metrik, dan audit readiness

Kepatuhan sangat bergantung pada bukti. Roadmap perlu menetapkan “paket bukti” yang dikumpulkan rutin. Bangun dashboard metrik untuk menunjukkan efektivitas kontrol, misalnya:

  • Persentase aset kritikal yang tercakup pemindaian kerentanan.
  • Patch compliance dalam SLA berbasis risiko.
  • MTTD/MTTR (waktu deteksi dan pemulihan) untuk insiden.
  • Hasil uji restore backup dan keberhasilan DR test.
  • Tingkat penyelesaian pelatihan keamanan dan simulasi.

Output: repositori bukti terstruktur, kebijakan retensi, dashboard metrik, dan rencana audit internal.

Contoh timeline implementasi (90 hari, 180 hari, 12 bulan)

Setiap organisasi berbeda, namun pembagian fase berikut sering realistis:

  • 0–90 hari: scoping, gap assessment, struktur governance, inventaris aset tingkat tinggi, quick wins (MFA untuk akun penting, kebijakan patch, backup baseline), dan kerangka respons insiden.
  • 90–180 hari: perluasan logging/monitoring, risk register yang matang, latihan insiden pertama, klasifikasi vendor dan kontrak prioritas, serta uji restore terjadwal.
  • 6–12 bulan: pematangan TPRM, otomasi kepatuhan patch, peningkatan deteksi, latihan insiden berkala, audit internal, dan penutupan gap besar berbasis risiko.

Gunakan roadmap sebagai dokumen hidup: revisi prioritas ketika bisnis berubah, ada temuan audit, atau muncul risiko baru.

Kesalahan umum saat mengejar NIS2 compliance

  • Terlalu fokus pada dokumen tanpa memastikan kontrol berjalan dan menghasilkan bukti operasional.
  • Mengabaikan vendor padahal layanan kritikal sering bergantung pada cloud/MSP.
  • Monitoring tanpa tindak lanjut: alert banyak tetapi tidak ada proses triage dan eskalasi.
  • Backup tidak pernah diuji: ada jadwal backup, namun restore gagal saat dibutuhkan.
  • Roadmap tidak didanai: prioritas sudah jelas, tetapi tidak ada anggaran dan resource yang dialokasikan.

FAQ: NIS2 Compliance Security Roadmap

1) Apakah NIS2 sama dengan ISO 27001?

Tidak sama. ISO 27001 adalah standar sistem manajemen keamanan informasi yang bisa disertifikasi. NIS2 adalah regulasi yang menetapkan kewajiban keamanan dan pelaporan insiden. Namun, banyak kontrol ISO 27001 dapat membantu memenuhi ekspektasi NIS2 jika dipetakan dengan baik dan dijalankan secara operasional.

2) Kontrol apa yang paling cepat memberi dampak untuk NIS2 readiness?

Biasanya kombinasi kontrol identitas (MFA dan least privilege), disiplin patch dan manajemen kerentanan, backup yang teruji, serta logging/monitoring untuk sistem kritikal. Ini menurunkan risiko paling umum dan memudahkan pembuktian saat audit.

3) Bagaimana cara membuktikan kepatuhan jika belum “sempurna”?

Audit readiness tidak selalu berarti semua gap sudah tertutup, tetapi Anda harus bisa menunjukkan: penilaian risiko yang jelas, rencana mitigasi yang disetujui, prioritas berbasis risiko, timeline, serta bukti kontrol yang sudah berjalan. Dokumentasi keputusan manajemen dan bukti operasional sangat penting.

4) Seberapa penting latihan respons insiden?

Sangat penting. Latihan tabletop dan simulasi membantu memastikan prosedur benar-benar bisa dijalankan, memperjelas peran lintas fungsi (IT, legal, PR, manajemen), dan menghasilkan bukti peningkatan berkelanjutan. Catat temuan latihan dan tindak lanjutnya sebagai artefak audit.

5) Apakah organisasi kecil perlu roadmap NIS2?

Jika organisasi Anda masuk cakupan atau menjadi pemasok bagi entitas yang tercakup, roadmap sangat disarankan. Bahkan jika tidak diwajibkan, roadmap tetap bermanfaat untuk meningkatkan ketahanan siber, mengurangi downtime, dan memperkuat kepercayaan pelanggan serta mitra.

Penutup: NIS2 compliance yang efektif bukan proyek sekali jadi, melainkan program keamanan yang terkelola. Dengan roadmap yang berbasis risiko, melibatkan manajemen, menyeimbangkan kontrol teknis dan proses, serta memprioritaskan bukti operasional, organisasi dapat meningkatkan ketahanan sekaligus siap menghadapi tuntutan regulasi dan audit.