Typosquatting (kadang disebut URL hijacking) adalah praktik penyalahgunaan domain yang memanfaatkan kesalahan ketik pengguna—misalnya menulis contoh.com menjadi contih.com—agar korban diarahkan ke domain tiruan. Dampaknya tidak cuma reputasi: typosquatting sering menjadi pintu masuk phishing, penipuan pembayaran, penyebaran malware, hingga pengambilalihan akun melalui halaman login palsu.
Banyak organisasi sudah memperkuat keamanan aplikasi, tetapi permukaan serangan domain sering luput: variasi ejaan, TLD yang mirip, homograf (huruf mirip), hingga subdomain palsu. Artikel ini menyajikan typosquatting domain defense checklist yang praktis—berfokus pada langkah defensif, monitoring, dan respons—agar tim IT, keamanan, dan brand dapat menutup celah sebelum dipakai untuk menipu pengguna.
Apa Itu Typosquatting dan Mengapa Berbahaya?
Typosquatting terjadi saat pelaku mendaftarkan domain yang menyerupai domain resmi Anda. Kemiripan bisa berasal dari:
- Salah ketik umum (missing character, double character, swapped character).
- Lookalike menggunakan karakter mirip (misalnya huruf “l” dan “I”, atau “o” dan “0”).
- Variasi TLD (misalnya .com vs .co, .id vs .co.id, .net, .org).
- Penambahan kata yang tampak meyakinkan (misalnya “-support”, “-billing”, “-login”).
Bahaya utamanya adalah kepercayaan. Pengguna cenderung tidak memeriksa URL secara detail, sehingga domain tiruan dapat:
- Meniru halaman login untuk mencuri kredensial (phishing).
- Mengirim email seolah-olah dari perusahaan Anda (spoofing), terutama jika kontrol email tidak ketat.
- Menipu pembayaran/invoice (fraud) dengan rekening tujuan palsu.
- Merusak reputasi brand akibat keluhan “situs palsu” atau “email penipuan” yang dianggap berasal dari Anda.
Typosquatting Domain Defense Checklist (Lengkap)
Gunakan checklist di bawah sebagai pedoman audit berkala. Idealnya, Anda menggabungkan pencegahan (prevent), deteksi (detect), dan respons (respond).
1) Petakan Aset Domain & Subdomain Resmi
Langkah pertama adalah memastikan Anda tahu apa yang harus dilindungi.
- Inventaris domain utama, domain kampanye, domain produk, dan domain regional.
- Inventaris subdomain yang berhubungan dengan autentikasi: login, account, sso, mail, support, payment.
- Dokumentasikan registrar, tanggal kedaluwarsa, nameserver, serta pemilik internal (owner).
Tanpa inventaris, Anda berisiko melewatkan domain yang kritikal atau kedaluwarsa—yang bisa “diambil alih” pihak lain.
2) Daftarkan Variasi Domain yang Paling Berisiko (Defensive Registration)
Defensive registration adalah strategi mencegah penyalahgunaan dengan mendaftarkan variasi yang paling mungkin disalahgunakan. Fokus pada yang berdampak tinggi dan realistis.
- Variasi salah ketik umum dari domain utama (misalnya huruf tertukar/kurang).
- TLD yang paling sering disalahpahami oleh pengguna (misalnya .com, .co, .id, .co.id).
- Domain dengan kata sensitif yang sering dipakai untuk phishing: “login”, “secure”, “verify”, “support”, “billing”.
Catatan defensif: Anda tidak harus mendaftarkan semua kemungkinan (jumlahnya bisa sangat besar). Prioritaskan berdasarkan trafik, popularitas brand, dan konteks penipuan yang pernah terjadi di industri Anda.
3) Kunci Keamanan Registrar (Registrar Hardening)
Serangan tidak selalu lewat domain tiruan; kadang pelaku menargetkan akun registrar Anda. Amankan titik ini dengan ketat:
- Aktifkan MFA untuk akun registrar (hindari SMS jika memungkinkan; gunakan autentikator).
- Batasi akses admin dengan prinsip least privilege dan gunakan akun terpisah untuk aktivitas harian.
- Aktifkan domain lock (clientTransferProhibited) untuk mencegah transfer tanpa otorisasi.
- Gunakan email administrasi domain yang dilindungi (MFA, kebijakan password kuat, dan monitoring).
- Audit perubahan DNS secara rutin dan aktifkan notifikasi perubahan (jika registrar mendukung).
4) Terapkan Kontrol Email untuk Mencegah Spoofing (SPF, DKIM, DMARC)
Typosquatting sering berjalan beriringan dengan email phishing. Meski domain tiruan berbeda, penipu juga bisa mencoba mengirim email seolah dari domain resmi Anda. Pastikan kontrol email berikut aktif:
- SPF: mendeklarasikan server mana yang boleh mengirim email atas nama domain Anda.
- DKIM: menandatangani email agar penerima dapat memverifikasi integritas dan asal.
- DMARC: kebijakan penanganan jika SPF/DKIM gagal, plus laporan untuk visibilitas.
Targetkan DMARC ke kebijakan yang lebih tegas secara bertahap (misalnya dari monitoring ke penegakan), dengan meminimalkan false positive melalui pengujian dan pemantauan laporan.
5) Monitoring Domain Lookalike Secara Proaktif
Anda perlu tahu kapan domain mirip brand Anda didaftarkan. Monitoring dapat dilakukan melalui layanan brand protection, pemantauan DNS, dan alert keamanan.
- Pasang alert untuk pendaftaran domain yang mirip (variasi ejaan, TLD lain, penambahan kata).
- Pantau perubahan DNS pada domain resmi Anda (A/AAAA, MX, NS, TXT).
- Pantau sertifikat TLS yang terbit untuk domain mirip (indikasi domain baru siap dipakai).
- Integrasikan alert ke sistem tiket/SOC agar ada pemilik dan SLA respons.
Monitoring yang baik menurunkan waktu deteksi (MTTD). Dalam kasus typosquatting, kecepatan penting karena kampanye phishing bisa berlangsung singkat tapi berdampak besar.
6) Siapkan Kebijakan Redirect & Konten untuk Domain Defensif
Jika Anda mendaftarkan domain variasi, putuskan perlakuannya:
- Redirect 301 ke domain utama (untuk mengurangi kebingungan pengguna).
- Atau tampilkan halaman statis yang jelas mengarahkan ke domain resmi (terutama jika ada risiko loop atau kebutuhan audit).
- Pastikan domain defensif tidak dipakai untuk login, agar tidak memperluas permukaan serangan.
7) Edukasi Pengguna dan Karyawan: “Periksa URL” Bukan Sekadar Slogan
Program awareness yang efektif harus spesifik, bukan umum. Fokus pada perilaku yang bisa dilakukan pengguna:
- Biasakan akses melalui bookmark atau kanal resmi, bukan dari link acak.
- Ajarkan ciri URL palsu: karakter mirip, tambahan kata, TLD aneh, atau subdomain menipu.
- Untuk tim internal: verifikasi permintaan pembayaran/perubahan rekening melalui kanal out-of-band.
Awareness bukan pengganti kontrol teknis, tetapi membantu menutup celah human factor yang sering dieksploitasi.
8) Hardening DNS dan Infrastruktur Web Resmi
Walau typosquatting fokus pada domain tiruan, infrastruktur domain resmi tetap harus kuat agar tidak mudah diserang dan disalahgunakan reputasinya:
- Gunakan penyedia DNS yang memiliki proteksi DDoS dan kontrol akses yang baik.
- Aktifkan DNSSEC bila memungkinkan untuk meningkatkan integritas jawaban DNS.
- Pastikan TLS/HTTPS dikonfigurasi benar dan sertifikat dikelola dengan proses yang rapi.
- Minimalkan subdomain tidak terpakai dan hindari “dangling DNS” (record menunjuk ke layanan yang sudah tidak dipakai).
9) Siapkan Playbook Respons: Triage, Validasi, Take-Down, Komunikasi
Saat domain tiruan terdeteksi, respons Anda harus cepat dan terdokumentasi.
- Triage: apakah domain hanya parkir iklan, meniru login, atau sudah mengirim kampanye email?
- Validasi: dokumentasikan bukti (URL, screenshot, header email, waktu, DNS record) untuk kebutuhan eskalasi.
- Mitigasi: blokir di secure web gateway/EDR, perbarui aturan email, dan beri warning internal.
- Take-down: hubungi registrar/hosting provider dengan bukti, ajukan proses pelaporan sesuai kebijakan mereka.
- Komunikasi: siapkan template notifikasi pelanggan jika insiden berisiko tinggi (tanpa memperluas kepanikan).
Playbook juga harus menjelaskan siapa yang berwenang memutuskan eskalasi legal dan bagaimana alur koordinasi dengan brand/legal/PR.
10) Ukur dan Audit Berkala
Supaya program defense tidak hanya “sekali jalan”, tetapkan metrik dan audit:
- Jumlah domain lookalike yang terdeteksi per bulan dan status penanganannya.
- Waktu deteksi (MTTD) dan waktu respons (MTTR) untuk kasus domain tiruan.
- Kepatuhan domain resmi terhadap kontrol: MFA registrar, DMARC, dan monitoring perubahan DNS.
- Review portofolio domain defensif: mana yang masih relevan, mana yang bisa dipensiunkan dengan aman.
Prioritas Cepat: Checklist 24–48 Jam untuk Tim Kecil
Jika sumber daya terbatas, mulai dari yang paling “impactful”:
- Aktifkan MFA dan domain lock di registrar untuk semua domain penting.
- Pastikan SPF, DKIM, DMARC aktif untuk domain utama.
- Daftarkan variasi domain yang paling sering salah ketik + TLD kritikal.
- Pasang monitoring pendaftaran domain mirip dan integrasikan alert ke email/ticketing.
- Siapkan playbook sederhana: siapa yang mengumpulkan bukti, siapa yang kontak provider, dan kapan mengumumkan ke pengguna.
Kesalahan Umum yang Membuat Typosquatting Sulit Dikendalikan
- Domain kedaluwarsa karena tidak ada owner dan notifikasi tidak sampai.
- DMARC hanya monitoring selamanya tanpa rencana peningkatan kebijakan.
- Inventaris domain tidak lengkap sehingga domain penting luput dari proteksi.
- Respons lambat karena tidak ada bukti yang rapi atau alur eskalasi tidak jelas.
- Terlalu banyak domain defensif tanpa tata kelola sehingga justru menambah beban administrasi.
FAQ: Typosquatting Domain Defense Checklist
1) Apa bedanya typosquatting dan cybersquatting?
Typosquatting fokus pada domain yang memanfaatkan salah ketik atau kemiripan ejaan/karakter. Cybersquatting lebih luas: pendaftaran domain terkait merek untuk keuntungan tertentu (misalnya dijual kembali), tidak selalu berbasis salah ketik.
2) Apakah defensive registration wajib untuk semua bisnis?
Tidak selalu, tetapi sangat disarankan untuk organisasi yang memiliki banyak pengguna, transaksi online, atau reputasi brand yang kuat. Pendekatan yang baik adalah berbasis risiko: daftarkan variasi yang paling mungkin disalahgunakan dan paling berbahaya jika dipakai untuk phishing.
3) Kalau domain tiruan memakai HTTPS, apakah berarti aman?
Tidak. HTTPS hanya berarti koneksi terenkripsi ke domain tersebut, bukan menjamin domain itu resmi. Penipu dapat memperoleh sertifikat TLS untuk domain tiruan. Karena itu, edukasi “lihat gembok” saja tidak cukup—pengguna harus memeriksa nama domain.
4) Kontrol email apa yang paling penting untuk mencegah email mengaku dari domain saya?
Kombinasi SPF + DKIM + DMARC adalah standar praktik terbaik. DMARC memberikan kebijakan dan visibilitas melalui laporan, sehingga Anda bisa menurunkan peluang spoofing dan lebih cepat mendeteksi penyalahgunaan.
5) Kapan saya perlu melibatkan tim legal atau PR?
Libatkan legal saat ada pelanggaran merek, kebutuhan permintaan take-down formal, atau potensi sengketa domain. Libatkan PR/komunikasi ketika insiden berpotensi memengaruhi pelanggan (misalnya kampanye phishing masif) dan Anda perlu pernyataan publik yang konsisten.
Dengan checklist di atas, Anda bisa membangun pertahanan berlapis: mencegah domain tiruan yang paling berbahaya, mendeteksi pendaftaran domain mirip lebih cepat, serta merespons dengan playbook yang jelas. Typosquatting tidak bisa dihapus sepenuhnya dari internet, tetapi dampaknya bisa ditekan secara signifikan dengan tata kelola domain dan kontrol email yang kuat.