DNS hijacking (pembajakan DNS) adalah salah satu ancaman yang paling “senyap” namun berdampak besar. Ketika DNS dimanipulasi, pengguna bisa diarahkan ke server penyerang meski mereka mengetik alamat domain yang benar. Dampaknya bukan hanya downtime, tetapi juga pencurian kredensial, pengalihan transaksi, penyebaran malware, hingga kerusakan reputasi.

Artikel ini menyajikan DNS hijacking defense checklist yang bisa Anda pakai sebagai panduan audit dan penguatan keamanan—mulai dari registrar domain, layanan DNS hosting, konfigurasi internal, hingga monitoring dan respons insiden. Fokusnya defensif dan praktis, cocok untuk pemilik bisnis, tim IT, admin sistem, dan security engineer.

Apa Itu DNS Hijacking dan Mengapa Berbahaya?

DNS (Domain Name System) menerjemahkan nama domain (misalnya contoh.com) menjadi alamat IP. Pada DNS hijacking, pihak tidak berwenang mengubah jalur penerjemahan tersebut, sehingga trafik yang seharusnya menuju server Anda malah mengarah ke tujuan lain.

Skema umum yang sering terjadi:

  • Pengambilalihan akun registrar: penyerang masuk ke akun domain Anda dan mengubah nameserver atau record.
  • Kompromi akun DNS hosting: kredensial panel DNS bocor, lalu record (A/AAAA/CNAME/MX/TXT) diubah.
  • Man-in-the-middle pada jaringan lokal: DNS resolver yang dipakai pengguna dipaksa menggunakan server DNS berbahaya.
  • Modifikasi resolver internal: konfigurasi DNS pada server/endpoint perusahaan diubah.

Karena DNS berada “di depan” hampir semua layanan (web, email, API), satu perubahan kecil pada record dapat berdampak luas. Itulah sebabnya defense harus mencakup kontrol akses, integritas, dan deteksi dini.

DNS Hijacking Defense Checklist (Audit & Hardening)

Gunakan checklist berikut sebagai baseline. Tidak semua langkah wajib untuk semua organisasi, namun semakin banyak yang diterapkan, semakin kecil peluang pembajakan sukses dan semakin cepat Anda mendeteksinya.

1) Amankan Registrar Domain (Lapisan Paling Kritis)

  • Aktifkan MFA/2FA pada akun registrar (idealnya aplikasi authenticator atau hardware key). Hindari SMS jika ada opsi yang lebih kuat.
  • Gunakan password unik & kuat untuk registrar, dan simpan di password manager perusahaan.
  • Aktifkan Registrar Lock / Domain Lock agar perubahan sensitif (transfer, nameserver) memerlukan langkah verifikasi tambahan.
  • Batasi akses akun: hanya segelintir admin yang benar-benar perlu. Terapkan prinsip least privilege.
  • Audit kontak domain: pastikan email admin/registrant aman (juga pakai MFA) karena sering dipakai untuk reset.
  • Nonaktifkan fitur yang tidak diperlukan (misalnya akses API registrar jika tidak digunakan).
  • Catat dan simpan bukti kepemilikan domain (invoice, bukti registrasi) untuk mempercepat pemulihan jika terjadi sengketa.

2) Perkuat Akun DNS Hosting & Kontrol Perubahan

  • MFA wajib untuk panel DNS hosting dan akun cloud terkait.
  • RBAC: pisahkan peran (viewer/editor/admin). Jangan semua orang jadi admin DNS.
  • Change management: semua perubahan record harus punya tiket, persetujuan, dan dokumentasi.
  • Gunakan “Infrastructure as Code” bila memungkinkan (misalnya definisi zona DNS terdokumentasi). Ini memudahkan audit dan rollback saat insiden.
  • Aktifkan logging/audit trail pada DNS provider: siapa mengubah apa, kapan, dari mana.
  • Batasi akses IP untuk panel admin bila provider mendukung (allowlist IP kantor/VPN).

3) Terapkan DNSSEC untuk Integritas Jawaban DNS

DNSSEC menambahkan tanda tangan kriptografis pada data DNS sehingga resolver dapat memverifikasi bahwa jawaban tidak dimodifikasi. DNSSEC tidak menghilangkan semua risiko (misalnya kompromi akun masih mungkin), tetapi sangat membantu mencegah pemalsuan jawaban DNS di jalur (spoofing) dan meningkatkan kepercayaan resolusi.

  • Aktifkan DNSSEC di zona DNS Anda jika didukung provider.
  • Kelola kunci dengan benar: pahami prosedur rollover kunci agar tidak menyebabkan outage.
  • Validasi setelah aktif: pastikan chain of trust benar dari registrar (DS record) hingga authoritative DNS.

4) Lindungi Record Berisiko Tinggi (Web, Email, dan Identity)

Penyerang sering mengincar record yang memberi akses ke autentikasi atau transaksi. Prioritaskan proteksi dan monitoring untuk:

  • A/AAAA dan CNAME untuk domain utama, login portal, dan subdomain kritis (misalnya auth., sso., api.).
  • MX (email): perubahan MX dapat mengalihkan email masuk ke server penyerang.
  • TXT untuk SPF/DKIM/DMARC dan verifikasi layanan (SSO, cloud, CDN). Perubahan TXT bisa digunakan untuk mengambil alih integrasi.
  • NS dan SOA: perubahan nameserver adalah indikator kuat pembajakan.
  • Gunakan TTL yang masuk akal: TTL terlalu tinggi memperlambat pemulihan setelah insiden; TTL terlalu rendah meningkatkan beban dan potensi salah konfigurasi. Untuk record kritis, banyak organisasi memilih TTL moderat dan memiliki prosedur darurat.
  • Dokumentasikan “golden record”: daftar nilai record yang seharusnya (expected state) agar mudah dibandingkan saat audit/insiden.

5) Monitoring DNS: Deteksi Dini adalah Kunci

DNS hijacking sering terdeteksi terlambat karena perubahan terlihat “normal” bagi pengguna. Monitoring membantu Anda tahu lebih cepat sebelum kerusakan meluas.

  • Aktifkan alert perubahan DNS dari provider (notifikasi email/Slack untuk setiap perubahan record).
  • Monitoring dari berbagai lokasi: lakukan pengecekan resolusi dari beberapa region/ISP untuk mendeteksi anomali propagasi atau poisoning.
  • Deteksi perubahan NS/DS (DNSSEC) sebagai prioritas tertinggi.
  • Telemetry web & sertifikat: pantau lonjakan error TLS, perubahan sertifikat, atau redirect tidak wajar—sering menjadi gejala DNS diarahkan ke server lain.
  • SIEM: kirim audit log registrar/DNS/cloud ke SIEM untuk korelasi (misalnya login aneh + perubahan record).

6) Hardening Resolver Internal (Jaringan Perusahaan)

Tidak semua DNS hijacking terjadi di level domain publik. Di jaringan internal, ancaman bisa berupa pengalihan resolver atau jawaban DNS yang dimanipulasi.

  • Gunakan resolver tepercaya untuk endpoint (resolver perusahaan, atau resolver yang divalidasi dan memiliki proteksi).
  • Batasi perubahan konfigurasi DNS di endpoint melalui kebijakan perangkat (MDM/GPO) dan hak akses admin.
  • Amankan DHCP: pastikan distribusi DNS server via DHCP tidak mudah disusupi.
  • Segmentasi jaringan: perangkat tamu/IoT tidak boleh bebas mempengaruhi layanan jaringan internal.
  • DNS filtering untuk memblok domain berbahaya dan meningkatkan visibilitas.

7) Proteksi Akun Email Admin & Rantai Reset Password

Banyak takeover domain dimulai dari kompromi email yang dipakai sebagai akun admin registrar/DNS. Jika penyerang menguasai email, mereka bisa reset password dan mengambil alih kontrol DNS.

  • MFA kuat untuk email (hardware key bila memungkinkan).
  • Audit forwarding rules dan akses OAuth pihak ketiga pada mailbox admin.
  • Gunakan alamat email khusus untuk administrasi domain (bukan email harian) dengan akses terbatas.
  • Aktifkan notifikasi login dan deteksi anomali (login dari negara/perangkat baru).

8) Review Keamanan Vendor: Registrar, DNS Provider, CDN

  • Evaluasi fitur keamanan: MFA, RBAC, audit log, IP allowlist, domain lock, dukungan DNSSEC.
  • Perjanjian & prosedur pemulihan: pahami SLA, jalur eskalasi, dan langkah emergency untuk mengembalikan kontrol.
  • Minimalkan vendor sprawl: semakin banyak panel admin, semakin besar permukaan serangan.

9) Checklist Respons Insiden Khusus DNS Hijacking

Ketika DNS dibajak, waktu sangat berharga. Siapkan playbook sebelum kejadian.

  • Kontak darurat vendor: simpan jalur verifikasi dan nomor tiket prioritas untuk registrar dan DNS provider.
  • Langkah isolasi cepat: kunci akun, reset kredensial, cabut token akses, dan review sesi login aktif.
  • Rollback konfigurasi ke “golden record” yang terdokumentasi.
  • Turunkan TTL saat darurat bila memungkinkan (dengan mempertimbangkan dampak) untuk mempercepat pemulihan.
  • Validasi end-to-end: cek resolusi dari banyak lokasi, pastikan web/email/API kembali normal.
  • Komunikasi: siapkan template notifikasi internal/eksternal bila ada potensi phishing atau kebocoran.
  • Post-incident review: identifikasi akar masalah (akun email? kredensial? kontrol akses?) dan perbaiki kontrol pencegahan.

Contoh Checklist Ringkas (Siap Tempel untuk Audit)

  • Registrar: MFA aktif, domain lock aktif, akses admin dibatasi, email admin aman.
  • DNS Hosting: RBAC, audit log, alert perubahan, IP allowlist (jika ada).
  • DNSSEC: aktif, DS record benar, prosedur rollover kunci terdokumentasi.
  • Record kritis: NS/A/AAAA/CNAME/MX/TXT terpantau, golden record tersedia.
  • Monitoring: cek resolusi multi-region, SIEM/log terpusat, alert anomali TLS/redirect.
  • Internal: resolver tepercaya, kebijakan endpoint, DHCP aman, segmentasi jaringan.
  • IR Playbook: kontak vendor, langkah rollback, template komunikasi, latihan berkala.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang DNS Hijacking Defense

Apa bedanya DNS hijacking dan DNS poisoning?

Secara praktis, keduanya sama-sama membuat pengguna menerima jawaban DNS yang salah. DNS poisoning sering merujuk pada manipulasi cache resolver (misalnya cache berisi data palsu), sedangkan DNS hijacking lebih luas: termasuk takeover akun registrar/DNS hosting, perubahan nameserver, atau pengalihan resolver. Dari sisi defensif, pendekatannya mirip: lindungi kontrol perubahan dan pastikan integritas serta monitoring.

Apakah DNSSEC cukup untuk mencegah DNS hijacking?

DNSSEC sangat membantu untuk memastikan jawaban DNS valid dan tidak dimodifikasi di jalur, terutama melawan pemalsuan/spoofing. Namun DNSSEC bukan obat tunggal. Jika akun registrar/DNS hosting Anda diambil alih dan penyerang mengubah record “secara sah” dari panel admin, DNSSEC tidak otomatis menghentikannya. Karena itu, DNSSEC harus dipadukan dengan MFA, domain lock, RBAC, audit log, dan monitoring perubahan.

Tanda-tanda apa yang mengindikasikan domain sedang dibajak?

Indikator umum meliputi: perubahan nameserver tanpa tiket/perubahan terencana, lonjakan keluhan pengguna tentang halaman login berbeda, sertifikat TLS berubah atau peringatan keamanan meningkat, email tidak masuk (perubahan MX), serta adanya login tidak wajar pada akun registrar/DNS. Monitoring resolusi dari beberapa lokasi juga bisa menunjukkan domain mengarah ke IP yang tidak Anda kenal.

Seberapa sering sebaiknya audit konfigurasi DNS?

Untuk organisasi kecil, audit bulanan sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, ditambah alert real-time untuk perubahan. Untuk organisasi menengah-besar atau yang menjalankan layanan kritis (e-commerce, fintech, SaaS), audit mingguan atau berbasis perubahan (setiap ada deployment) lebih ideal, dengan audit log terpusat dan proses persetujuan yang ketat.

Langkah pertama apa yang paling berdampak jika sumber daya terbatas?

Jika harus memilih, prioritaskan: MFA untuk registrar dan DNS hosting, aktifkan domain lock, batasi admin, dan nyalakan alert perubahan DNS. Empat langkah ini menutup celah takeover paling umum dan mempercepat deteksi sebelum dampak membesar.

Penutup

DNS hijacking bukan sekadar isu teknis—ini adalah risiko bisnis yang bisa memengaruhi kepercayaan pelanggan, keamanan data, dan kelangsungan layanan. Dengan menerapkan DNS hijacking defense checklist di atas, Anda membangun pertahanan berlapis: mencegah takeover, memastikan integritas jawaban, dan mempercepat respons saat terjadi anomali.

Mulailah dari yang paling berdampak: amankan registrar, kuatkan kontrol perubahan DNS hosting, aktifkan monitoring, lalu tingkatkan dengan DNSSEC dan hardening resolver internal. Konsistensi audit dan disiplin change management adalah pembeda utama antara insiden kecil dan krisis besar.